1 Juta Sarjana Pengangguran, Alarm buat Sistem Pendidikan Nasional
TopCareer.id – Masih tingginya angka pengangguran lulusan sarjana di Indonesia harus jadi alarm bagi sistem pendidikan nasional.
Berdasarkan data terbaru Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas), pada Mei 2026, jumlah pengangguran bergelar sarjana mencapai 1.033.182 orang.
Dari total penduduk usia kerja menganggur yang mencapai 7,22 juta orang, 14,31 persen di antaranya merupakan pengangguran yang berlatar belakang sarjana terapan atau S-1, S-2, dan S-3.
Agus Sartono, Guru Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) mengatakan, tingginya angka pengangguran ini semakin nyata di tengah kondisi ekonomi nasional yang dibayangi ketidakpastian.
Menurutnya, berbagai masalah berakar dari ketidakseimbangan antara jumlah lulusan dengan daya serap pasar kerja.
Setiap tahun ada 3,7 juta lulusan SMA, SMK, MA, dan sederajat yang menyelesaikan pendidikan. Dari jumlah ini, hanya sekitar 1,9 juta yang dapat melanjutkan ke perguruan tinggi dan sekitar 1,6 juta lainnya mencari kerja.
Baca Juga: BPS Klaim Pengangguran Turun Jadi 7,22 Juta Orang
Namun di sisi lain, sekitar 1,8 juta lulusan perguruan tinggi harus mencari pekerjaan, sehingga total pencari kerja baru pun mencapai sekitar 3,4 juta orang.
Jika dibandingkan dengan jumlah pengangguran yang ada, setidaknya terdapat 10,62 juta orang yang bersaing memperebutkan kesempatan kerja.
“Angka-angka ini tidak banyak mengalami perubahan selama sepuluh terakhir, karena luaran pendidikan di jenjang SLTA dan Pendidikan Tinggi tidak bisa dihentikan,” kata Agus, mengutip laman resmi UGM, Kamis (13/8/2026).
“Di sinilah tantangan riil bagi pemerintah, agar menciptakan iklim usaha yang kondusif sehingga penciptaan kesempatan kerja meningkat,” ujarnya.
Persaingan yang ketat ini pun menyebabkan semakin banyak lulusan perguruan tinggi yang terpaksa bekerja di bawah kualifikasi mereka.
“Pada saat bersamaan, perkembangan teknologi mendorong dunia usaha semakin mengandalkan otomatisasi demi meningkatkan efisiensi, sehingga kebutuhan terhadap tenaga kerja manusia menjadi semakin selektif,” kata Agus.



